Kembali ke Beranda

Pendapatan OpenAI Melompat 10 Kali Lipat, Namun Kerugian Masih Menghantui

18 Juni 2026 18:01
Redaksi trend.proAktif.id
Pendapatan OpenAI Melompat 10 Kali Lipat, Namun Kerugian Masih Menghantui

KOMPAS.com - Perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) OpenAI telah meraih pendapatan yang sangat fantastis pada tahun 2025 lalu, dengan total pendapatan mencapai 20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 355 triliun. Pendapatan ini meningkat 10 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2023.

Namun, meskipun pendapatan OpenAI meningkat secara signifikan, perusahaan ini masih mengalami kerugian yang cukup besar. Bocoran dokumen menunjukkan bahwa induk chatbot ChatGPT ini terus merugi, dengan kerugian tertinggi mencapai 39 miliar dollar AS atau sekitar Rp 693 triliun pada 2025.

Dokumen tersebut terungkap dari laporan yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa (Securities and Exchange Commission/SEC) AS yang diperoleh oleh jurnalis independen Ed Zitron. Dokumen itu mengungkapkan bahwa OpenAI meraih pendapatan 13,07 miliar dollar AS atau sekitar Rp 232 triliun pada tahun 2025, naik dari tahun sebelumnya 3,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 65,7 triliun.

Outlet media Financial Times yang meninjau dokumen yang sama, memaparkan bahwa pendapatan bulanan OpenAI hampir 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 35,5 triliun pada akhir tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan ini membukukan pendapatan berkelanjutan sepanjang tahun tersebut.

Namun pendapatan OpenAI itu, terhitung kecil bila dibandingkan dengan jumlah pengeluarannya yang juga tumbuh signifikan. Pendapatan OpenAI dalam dua tahun terakhir itu, lebih rendah dari pengeluaran perusahaan untuk riset dan pengembangan (research and development/R&D) sebesar 7,81 miliar dollar AS atau sekitar Rp 138 triliun pada tahun 2024 dan 19,18 miliar dollar AS atau sekitar Rp 312,6 triliun pada tahun 2025.

Pengeluaran tersebut kabarnya ditujukan untuk melatih model-model AI baru, serta biaya R&D ke Microsoft sebesar 10,59 miliar dollar AS atau sekitar Rp 188 triliun. Pengeluaran "cost of revenue", yang mencakup biaya penyediaan dan distribusi layanan, juga naik dari 2,65 miliar dollar AS atau sekitar Rp 47,1 triliun pada 2024 menjadi 7,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 133 triliun pada 2025.

Kenaikan ini diduga berasal dari meningkatnya biaya komputasi yang dibutuhkan untuk memproses miliaran permintaan pengguna ke layanan perusahaan. Pengeluaran lainnya yaitu dalam hal penjualan dan pemasaran yang meningkat dari 1,11 miliar dollar AS atau sekitar Rp 19,7 triliun pada 2024 menjadi 5,73 miliar dollar AS atau sekitar Rp 101,8 triliun pada tahun lalu.

Akumulasi berbagai pengeluaran tersebut membuat kerugian operasional OpenAI naik dari 8,78 miliar dollar AS atau sekitar Rp 156 triliun pada 2024 menjadi 20,92 miliar dollar AS atau sekitar Rp 371 triliun pada 2025. Meski angka kerugiannya meningkat, rasio kerugian terhadap pendapatan sebenarnya menunjukkan perbaikan.

Pada 2024, kerugian operasional setara 237 persen dari total pendapatan. Angka tersebut turun menjadi 160 persen pada 2025, menunjukkan pendapatan perusahaan tumbuh lebih cepat dibandingkan kerugiannya. Hal ini menunjukkan bahwa OpenAI mulai menunjukkan kemajuan dalam meningkatkan pendapatannya, namun masih perlu memperbaiki manajemen pengeluarannya untuk mencapai keuntungan.

Perlu diingat bahwa laporan keuangan OpenAI ini hanya mencakup pendapatan dan pengeluaran perusahaan, dan tidak mencakup informasi tentang strategi dan rencana perusahaan untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi kerugian. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis lanjutan untuk memahami lebih baik tentang kinerja keuangan OpenAI dan prospek perusahaan di masa depan.

Dalam beberapa tahun terakhir, OpenAI telah menjadi salah satu perusahaan AI paling populer dan berpengaruh di dunia. Dengan pendapatan yang signifikan dan pengeluaran yang besar, OpenAI telah menunjukkan kemampuan untuk mengembangkan teknologi AI yang canggih dan meningkatkan pendapatan perusahaan. Namun, perusahaan ini masih perlu memperbaiki manajemen pengeluarannya untuk mencapai keuntungan dan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

Ke depan, OpenAI diharapkan dapat terus meningkatkan pendapatan dan mengurangi kerugian dengan mengembangkan teknologi AI yang lebih canggih dan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Dengan demikian, OpenAI dapat terus menjadi salah satu perusahaan AI paling berpengaruh dan sukses di dunia.

Ringkasan

OpenAI meraih pendapatan fantastis sebesar Rp 355 triliun dari ChatGPT, tapi masih rugi Rp 693 triliun

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru