Klaim Keliru tentang Vaksin Human Papillomavirus Anak: Apa, Siapa, dan Mengapa
Mengenal klaim keliru seputar vaksin Human Papillomavirus anak dan pentingnya informasi yang akurat
JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market memberikan angin segar bagi pasar modal domestik.
Hal itu diumumkan lembaga provider global dalam MSCI 2026 Market Classification Review, Rabu (24/6/2026) WIB.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai hasil MSCI Annual Market Classification Review 2026 menjadi sentimen bagi IHSG pekan ini.
Dalam laporan itu, MSCI menilai investor global masih memiliki kekhawatiran terhadap aspek investabilitas Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama soal transparansi dan struktur kepemilikan saham.
Meski demikian, MSCI mengapresiasi berbagai reformasi yang telah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Reformasi mencakup peningkatan keterbukaan informasi kepemilikan saham di atas 1 persen, implementasi kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta roadmap peningkatan batas minimum free float menjadi 15 persen.
Namun, MSCI menegaskan konsistensi implementasi reformasi, serta dampaknya dalam jangka panjang tetap menjadi faktor utama penilaian mereka terhadap pasar modal tanah air.
MSCI mengingatkan apabila hingga MSCI Index Review November 2026 belum terlihat kemajuan yang memadai, lembaga tersebut dapat mempertimbangkan berbagai opsi penanganan terhadap pasar saham domestik, termasuk membuka konsultasi terkait kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market. “Jika hingga MSCI Index Review November 2026 belum terlihat kemajuan yang memadai, MSCI dapat mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk konsultasi untuk mereklasifikasikan Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market (FM),” ujar Nafan.
Di tengah sentimen tersebut, IHSG masih berada dalam fase koreksi yang dinilai wajar secara teknikal.
Nafan mencatat IHSG masih berada dalam pola “wave (b)” meskipun indeks berhasil menguji garis rata-rata pergerakan 20 hari atau MA20 dengan membentuk pola pin bar. “Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal positif yang didukung oleh kenaikan volume perdagangan,” paparnya.
Secara teknikal, Nafan memproyeksikan level support IHSG berada di area 5.972 dan 5.848.
Sementara posisi resistance berada di 6.257 dan 6.377.
Meski demikian, tekanan terhadap pasar saham Indonesia masih belum sepenuhnya mereda.
Tercatat investor asing kembali membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 348,13 miliar pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Secara akumulatif sejak awal tahun, nilai net sell investor asing telah mencapai Rp 83,88 triliun.
Adapun kinerja IHSG secara year to date (ytd) masih terkoreksi 29,44 persen.
Selain sentimen MSCI, pasar juga dibayangi sejumlah faktor eksternal yang mempengaruhi minat investor terhadap aset berisiko.
MSCI Pertahankan Indonesia di Emerging Market, Ini Dampaknya ke IHSG Kompas.com