Cinema XXI Mencapai Titik Puncak dalam Menggunakan Dana IPO Rp217 Triliun
Cinema XXI Mencapai Titik Puncak dalam Menggunakan Dana IPO Rp217 Triliun
Persaingan pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) antara Amerika Serikat dan China telah memasuki babak baru. Penelitian telah menunjukkan adanya dugaan penggunaan model AI buatan perusahaan teknologi Barat sebagai dasar pengembangan sistem kecerdasan buatan untuk kepentingan pertahanan di China.
Berdasarkan hasil penelusuran Reuters, terhadap lebih dari 80 makalah akademis dan pengajuan paten, sejumlah institusi yang berafiliasi dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) disebut memanfaatkan keluaran model OpenAI dan Anthropic untuk melatih model AI yang dikembangkan di dalam negeri.
Investigasi turut mengacu pada materi yang dihimpun oleh Jamestown Foundation, lembaga riset yang berbasis di Washington. Temuan juga menunjukkan para peneliti menggunakan teknik yang dikenal sebagai model distillation atau penyulingan model, yakni memanfaatkan respons dari model AI canggih sebagai data sintetis untuk melatih model yang lebih kecil dan dapat dikendalikan secara lokal.
Model distillation menjadi salah satu metode yang banyak digunakan karena dinilai mampu memangkas biaya pengembangan AI. Alih-alih membangun model besar dari nol, peneliti cukup mengajukan berbagai pertanyaan kepada model AI Barat, kemudian menggunakan jawaban yang dihasilkan sebagai data pelatihan bagi model buatan sendiri.
Selain itu, model yang dihasilkan oleh proses distillation juga memiliki sejumlah keterbatasan. Dibandingkan model asli, kemampuannya umumnya lebih sempit, tidak memiliki kecerdasan umum yang setara, dan berpotensi kehilangan berbagai mekanisme pengaman yang telah diterapkan pada model sumber.
Meski demikian, praktik ekstraksi keluaran model AI tanpa izin dapat merugikan pemilik teknologi karena menyangkut hak kekayaan intelektual sekaligus berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan kontrol ekspor.
Menanggapi temuan tersebut, Anthropic menegaskan perusahaan tidak menyediakan akses komersial terhadap layanannya di China. Perusahaan juga mengaku menerapkan sistem pemantauan aktif untuk mendeteksi penyalahgunaan layanan maupun pelanggaran kebijakan penggunaan.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa persaingan pengembangan teknologi AI antara Amerika Serikat dan China masih merupakan babak baru dan belum berakhir. Dengan adanya penemuan bahwa militer China mungkin menggunakan model AI buatan OpenAI dan Anthropic untuk pengembangan senjata, maka penelitian dan pengembangan teknologi AI menjadi sangat penting di masa depan.
Hal ini dapat mempengaruhi keamanan negara dan keamanan internasional. Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan teknologi AI harus dilakukan dengan bijak dan bertanggung jawab.



Penelitian menunjukkan bahwa militer China mungkin menggunakan teknologi AI dari OpenAI dan Anthropic untuk pengembangan senjata.