Kembali ke Beranda

Bagaimana Lindungi Akuifer Alami dan Cegah Kebangkrutan Air?  DW.com

17 Juli 2026 11:13
Redaksi trend.proAktif.id
Bagaimana Lindungi Akuifer Alami dan Cegah Kebangkrutan Air?  DW.com

Kemarau di tahun El Nino yang menggandakan risiko kekeringan, terlebih jika cadangan air tanah habis terkuras. Metode pengisian ulang akuifer alami belum banyak dilirik, meski krusial untuk memitigasi dampak krisis iklim. Indonesia salah satu negara yang rentan menghadapi masalah kekeringan, terutama di musim kemarau ketika cadangan air tanah telah habis terkuras.

Musim kemarau baru berjalan, tetapi sejumlah daerah di Indonesia telah menghadapi ancaman kekeringan. Fenomena ini diperkirakan semakin terasa pada Juli hingga September, terutama di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sulawesi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau pada pertengahan tahun, sementara curah hujan cenderung berada pada kategori normal hingga di bawah normal di sejumlah daerah.

Di berbagai wilayah, hujan yang masih turun pada awal tahun belum cukup mengisi kembali cadangan air tanah. Menurut pemantauan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), beberapa cekungan air tanah di Pulau Jawa mengalami tekanan akibat tingginya penyedotan air dan berkurangnya daerah resapan. Pemerintah lokal akibatnya acap harus membatasi penggunaan air bersih untuk kegiatan nonesensial di puncak musim kemarau. Ancaman kekeringan juga membayangi sektor pertanian, terutama di wilayah yang bergantung pada tadah hujan.

Dalam skala rumahan, area penampung air hujan mengunakan prinsip sederhana, yakni menabung saat musim penghujan lalu digunakan ketika kemarau datang. Air tanah bekerja dengan cara yang serupa, hanya dalam skala jauh lebih besar. Air tanah terbentuk ketika air dari permukaan meresap ke dalam tanah, lalu terkumpul di atas lapisan batuan yang kedap air. Cadangan inilah yang menjadi sumber utama air bersih bagi jutaan orang di dunia.

Menurut UNESCO, hampir separuh air minum dunia berasal dari air tanah. Di Indonesia, sumber air ini juga memegang peranan penting. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut air tanah masih menjadi salah satu sumber utama air bersih, terutama di kawasan perkotaan serta wilayah yang belum terlayani jaringan air perpipaan.

Masalahnya, pemanfaatan air tanah terus meningkat sementara pengisiannya tidak sebanding. Secara global, pengambilan air tanah kini lebih dari tiga kali lipat dibandingkan lima dekade lalu. Akibatnya, muka air tanah di banyak negara terus menurun sehingga sumur harus digali semakin dalam untuk memperoleh air.

Indonesia menghadapi persoalan serupa. Di Jakarta, Bandung, Semarang, hingga sebagian wilayah pesisir utara Jawa, eksploitasi air tanah telah berlangsung selama puluhan tahun. Selain mengosongkan akuifer alami, penyedotan massal turut memicu penurunan permukaan tanah, terutama di kawasan perkotaan.

Apakah kebanayaan kekeringan ini bisa dicegah? Jawabannya adalah positif dengan adanya beberapa metode yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah memanfaatkan teknologi pengisian ulang akuifer. Teknologi ini memungkinkan air hujan dan air limbah dibersihkan untuk kemudian diinfiltrasikan ke dalam tanah. Dengan demikian, air tanah dapat terisi kembali dan menyimpan cadangan air selama musim kemarau.

Kelebihan metode ini adalah kecilnya kehilangan akibat penguapan, dibandingkan dengan waduk terbuka yang biasanya mengalami hilangannya karena penguapan. Pemanfaatan teknologi pengisian ulang akuifer juga perlu dipertimbangkan untuk menghadapi kekeringan yang semakin parah. Selain itu, cara ini juga lebih ramah lingkungan, dibandingkan dengan waduk.

Metode pengisian ulang akuifer telah dipraktikan di beberapa negara, seperti California, Amerika Serikat. Mereka berhasil menyimpan hampir lima miliar meter kubik air ke dalam akuifer pada tahun 2023 melalui berbagai proyek. Hal ini menunjukkan bahwa metode ini bisa efektif dalam mengatasi masalah kekeringan dan kekurangan air.

Pilihan lain yang bisa digunakan adalah membuat lahan pertanian sebagai area penampungan sementara saat terjadi banjir. Air yang ditampung di lahan itu dapat meresap ke dalam tanah dan kemudian digunakan saat musim kemarau. Metode ini juga memiliki potensi besar karena lahan pertanian mencakup hampir 40% daratan dunia.

Metode lainnya yaitu mengaktifkan penanganan daerah aliran sungai. Proses ini akan melebar area sungai untuk meluap saat musim hujan. Air akan menggenangi dataran banjir, membentuk kolam-kolam alaami, dan perlahan meresap ke dalam tanah. Pada saat proses tersebut, mikroorganisme di dalam tanah akan menyaring air sehingga kualitas air tanah meningkat.

Di Indonesia, metode ini mulai diterapkan dengan berbagai program rehabilitasi daerah aliran sungai oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Lingkungan Hidup. Meski implementasinya masih menghadapi tantangan di akibat alih fungsi lahan dan pesatnya urbanisasi.

Ringkasan

Bagaimana Lindungi Akuifer Alami dan Cegah Kebangkrutan Air?   DW.com

Sumber: dw.com

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru